Senin, 11 Juli 2016

Aku pikir ibu adalah malaikat surgaku yang sering ku dengar dari mulut kebanyakan orang-orang. Banyak hal yang ingin aku tanyakan pada ibu. Mengapa hidupku diperlakukan seperti ini? Apa yang salah tentang hidupku? Apakah kehidupanku diinginkan?

"Ibu,Membedakan ku?" Walaupun tidak sedikit hal itu terlontar dari mulutku. Aku hanya diam, iya hanya diam. Setiap hal yang terjadi ibu selalu menyalahkan ku, "kamu anggap ibu mu ini anjingkan? binatang kan? Kamu itu lebih dari binatang yang keluar tanpa pamit pergi seenaknya kaya kerbau".
Sulit rasanya menjelaskan ketika kata-kata itu keluar, seperti dicabik-cabik dengan pisau tajam. Aku hanya bisa menahan nafasku berusaha untuk kuat agar air mataku tidak terjatuh, sambil berjalan memasuki kamarku.
"Pergi dari rumah, ngapain lagi pulang kesini. Tidur sana dirumah orang lain, makan aja disana, kamu jilat itu bokongnya orang. Ambil bajumu keluar kamu dari rumah ini". Sakit sekali rasanya, walaupun kata-kata itu seringkali kudengar dari mulut ibuku saat ibu marah padaku, aku hanya diam dari kamar berusaha untuk menenangkan diriku sendiri.

"Ibuku memukulku dengan tangannya karna sebuah kunci rumah yang kubawa pergi" pikirku, ini memang salahku yang meninggalkan rumah tanpa kunci yang harusnya kutinggalkan juga. Tapi kenapa selalu aku yang dikatakan binatang, "iya aku binatang, aku lebih dari anjing yang pergi tanpa berkata apapun pada tuannya" ucapku dalam hati ketika ibu mencaciku dari luar kamarku.
Air mataku tidak berhenti menetes suara ibu begitu terekam jelas diotakku, "tunggu bapakmu nelpon, ku bilangin kamu sama bapakmu. Biar kamu tinggal dirumahnya orang aja, tunggu aja bapakmu nanti pulang kalau gak dihajar kamu" ucap ibu. Dan untuk kesekian kalinya aku mendengarkan kata itu lagi. Jujur seperti lelah dengan hidupku sendiri, banyak hal yang tak begitu ku mengerti.
Hidupku begitu dibedakan dengan adikku, aku hanya ingin seperti anak lainnya saat sakit ibu merawatku, ibu membelikan aku baju, celana, mengingatku ketika aku tidak dirumah. Tapi aku sadar diri, aku bukan siapa-siapa bahkan dibanggapun aku tidak pantas.
Iya aku bukan apa-apa di mata ibu dan ayahku, aku bukan untuk dibanggakan. "Coba liat adikmu, coba liat temanmu, coba liat keluargamu, mana ada yang kaya kamu" itu ucap ibuku yang sering ku dengar. Aku selalu dibandingkan dengan yang lain, haha untuk kata-kata itu aku selalu tertawa didepan ibu, aku berusaha meyakinkan diriku itu hanya sebuah lelucon. Aku memang selalu dibandingkan dengan kebanyakan orang disekitar ibuku yang dia kenal, memujiku pun ibu tidak pernah, yang aku tau ibu tidak pernah bangga padaku. "Mana tau apa-apa itu dirumah bersih-bersih aja mana tau nyapukah cuci piringkah cucian kah, mana tau dia itu" ucap ibu pada tetanggaku ketika ibu sedang berkumpul dengan ibu tetangga. Aku bisa apa? Aku hanya bisa menahan nafasku dan kembali berusaha menahan air mataku. Aku hanya bisa menangis, aku bodoh, aku pecundang. Aku hanya anak perempuan yang kecil yang tidak bisa dibanggakan tidak pantas untuk dilihat.

Saat ini yang aku butuhkan hanya diriku sendiri. Bahkan orang yang ku cintai pun inginku tinggalkan. Aku ingin pergi jauh sejauh mungkin dimana aku bisa mengerti siapa diriku. Bahkan suatu hari aku pernah berpikir jika Tuhan menyayangiku pasti dia akan mencabut nyawaku dan membawaku pergi bersama malaikatnya. Jika aku bertemu Tuhan kelak hanya satu yang ingin ku tanyakan padanya, "Jika jalan hidupku seperti ini, dimana pelangi akan muncul seperti yang telah Tuhan janjikan padaku?"

1 komentar: